e shtunë, 16 qershor 2007

Hantu yang Bernama UAN

Setiap tahun, terutama bagi siswa kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA, ada waktu yang harap-harap cemas ditunggu. Berharap untuk diselesaikan tetapi cemas dengan hasilnya. Sekian lama mengenyam pendidikan di bangku sekolah, dengan harapan dapat mewujudkan cita-cita kita sebagai siswa dalam menyiapkan masa depan yang cerah, dengan wujud melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau langsung bekerja. Namun ada satu hal yang harus dituntaskan dan itu memiliki resiko pula. Bila mengingatnya, kita akan lupa dengan canda tawa dan kenangan yang kita alami selama kita sekolah. Jalan yang telah kita tempuh akan berganti dengan jalan baru, tiap jalan mempunyai “persimpangan “.
Kita dapat melewati persimpangan itu dengan sebuah tiket (baca: lulus). Kita bisa mendapatkan tiket ini, melalui suatu test yang dinamakan UAN. Ini merupakan beban yang harus ditanggung, tidak hanya oleh anak didik, tetapi oleh orang tua serta guru-guru pengajar di sekolah. UAN benar-benar suatu syarat mutlak untuk bisa meneruskan langkah kita, banyak cara dilakukan oleh anak didik demi meraih tiket itu. Misalnya dengan mengikuti program bimbingan belajar yang saat ini marak diselenggarakan. Kelulusan menjadi hantu yang harus dihadapi, takut akan hantu akan lebih parah lagi bila tidak dihadapi pun demikian berhadapan dengan hantu itu kita harus siap. Dia tidak pandang bulu atau memilih, jika gagal akan bertemu lagi sampai tiket itu bisa kita rebut darinya.

Nuk ka komente: