e shtunë, 16 qershor 2007

KBK Suatu Rancangan Mutu Pendidikan sebagai Pengganti UAN


......UAN hanya mengukur prestasi dan kelulusan siswa berdasarkan nilai akhir yang dicapai pada hari "H" ujian. Artinya, penilaian itu lebih menyangkut aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotorik terabaikan.
"Cara pengukuran seperti itu bertolak belakang dengan konsep KBK, di mana prestasi siswa diukur dari ketiga aspek tersebut," paparnya.
Suparman,
Koalisi Pendidikan
Kompas, Selasa, 03 Agustus 2004

Saya sangat setuju dengan pandangan Bapak Suparman dari Koalisi Pendidikan, menurut saya terdapat suatu bentuk persamaan yang kontradiktif dalam meningkatkan mutu pendidikan. Persamaannya adalah Sistem KBK ditambah UAN sama dengan Nilai Kelulusan Tinggi, kontradiktifnya adalah: Pada dasarnya pendidikan bukan melulu tentang pelajaran membaca, menulis, dan berhitung saja. Melainkan bagaimana potensi atau bakat anak didik dikembangkan secara optimal. Di samping itu harus ada pengarahan atau pembinaan dari sisi psikologis anak didik itu sendiri. Jadi hal-hal tersebut diatas jelas perlu adanya cara-cara pendekatan tersendiri oleh figur seorang guru salah satunya.
Bagaimanakah parameter ini bisa dijadikan sebagai suatu alat ukur bagi mutu pendidikan dimana kondisi pendidikan tiap daerah berbeda-beda. Apakah data statistik dengan tingkat kelulusan yang lebih banyak akan sejajar dengan mutu pendidikannya? Jika tahun lalu dari 100 siswa ikut UAN yang lulus 90 orang dibandingkan dengan tahun ini jadi 96 orang. Apakah mutunya meningkat sedangkan yang tidak lulus tahun lalu kan ikut ujian juga tahun ini dari 100 lulus 90 maka 110 lulus 96.....?
Mutu pendidikan melalui KBK tentu saja ada faktor-faktor yang harus diperhatikan, seperti fasilitas sekolah itu sendiri, dengan perbedaan ini saja bisa kita lihat bahwa tiap daerah atau wilayah pasti berbeda fasilitasnya. Dengan demikian tidak bisa mengukur mutu itu sendiri. Saya berpikiran seperti ini, jika seluruh sekolah sama dalam menyediakan fasilitasnya (lab. Bahasa, lab. Sains, lab. Komputer, dan lap. Olahraga), maka parameter dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat dirancang. Dengan sistem KBK apakah anak didik masih perlu ikut UAN?

Read More......

Apakah Standar Kelulusan yang Terus Naik Sesuai dengan Soal yang Diujikan?

Seperti yang kita ketahui, pemerintah saat ini sedang gencar meningkatkan mutu pendidikan nasional. Hal ini dapat kita lihat dari tindakan Depdiknas yang menetapkan skor minimal (passing grade) 4,01 sebagai syarat kelulusan siswa. Kemudian pada tahun berikutnya, passing grade dinaikkan menjadi 4,25. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan naiknya passing grade tersebut, maka tingkat kesulitan soal yang diujikan menjadi lebih meningkat atau bahkan dirancang semakin mudah bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya? Kalau seperti ini sistem yang digunakan pemerintah, maka sama artinya dengan setali tiga uang. Bagaimanakah parameter ini bisa dijadikan sebagai suatu alat ukur bagi mutu pendidikan negara kita. Anak didik tidak bisa mengetahui ukuran tingkat kesulitan soal-soal ujian akhir, jika hukum dinamika diaplikasikan berarti skor minimal kelulusan akan terus berubah. Sampai berapakah tinggi nilai skor yang ditentukan oleh pemerintah, sehingga dapat dijadikan tolok ukur kelulusan yang bermutu bagi sekolah-sekolah di negara kita.

Read More......

Kompetensi dan Kualifikasi Guru untuk Mutu Pendidikan

Pengalaman adalah guru terbaik dan harus dihargai. Namun, penghargaan atas pengalaman mengajar seorang guru perlu difokuskan bukan pada lama tahun mengajar, tetapi kualitas dan pengembangan kompetensinya. Seorang guru yang sudah mengajar 20 tahun tidak otomatis bisa dianggap telah melampaui 20 tahun pengembangan profesionalisme dan kompetensinya.
Anita Lie,
Dosen FKIP Unika Widya Mandala Surabaya
Anggota Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

Kompas, Jumat, 3 februari 2006

Conny menyebut faktor utama yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah kondisi guru yang masih mismatch dalam hal penempatan guru yang tidak merata. Juga guru yang kualifikasinya tidak layak atau mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai bidang keahliannya. "Masalah itu mengakibatkan mutu pembelajaran rendah, dan pada akhirnya mengakibatkan mutu pendidikan kita rendah," ujarnya.
Prof. Dr. Conny R. Semiawan,
Praktisi Pendidikan
Kompas, Kamis, 29 April 2004
Menanggapi artikel di atas:
Seperti apakah guru yang berkompetensi? Dari sisi apa dapat diukur suatu kualifikasi seorang guru yang layak mengajar? Suatu hal yang dilematis, karena apabila anak didik tidak lulus sekolah, gurukah yang disalahkan atau anak didiknya? Jaminan apa yang diberikan dari sekolah jika benar guru-gurunya berkompetensi dalam mengajar dapat menyebabkan kelulusan 100% bagi seluruh anak didiknya?
Di sini terlihat adanya suatu syarat tertentu bagi seseorang untuk berprofesi jadi guru di masa depan. Missmatch yang terjadi tentu ada yang berwewenang dalam penempatan guru dengan kualifikasinya, tetapi apakah juga menjadi tanggung jawab bagi yang berwewenang itu sendiri.
Apakah kompetensi dan kualifikasi seorang guru berbanding lurus dengan mutu pembelajaran sehingga berdampak positif terhadap mutu pendidikan?

Read More......

Hantu yang Bernama UAN

Setiap tahun, terutama bagi siswa kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA, ada waktu yang harap-harap cemas ditunggu. Berharap untuk diselesaikan tetapi cemas dengan hasilnya. Sekian lama mengenyam pendidikan di bangku sekolah, dengan harapan dapat mewujudkan cita-cita kita sebagai siswa dalam menyiapkan masa depan yang cerah, dengan wujud melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau langsung bekerja. Namun ada satu hal yang harus dituntaskan dan itu memiliki resiko pula. Bila mengingatnya, kita akan lupa dengan canda tawa dan kenangan yang kita alami selama kita sekolah. Jalan yang telah kita tempuh akan berganti dengan jalan baru, tiap jalan mempunyai “persimpangan “.
Kita dapat melewati persimpangan itu dengan sebuah tiket (baca: lulus). Kita bisa mendapatkan tiket ini, melalui suatu test yang dinamakan UAN. Ini merupakan beban yang harus ditanggung, tidak hanya oleh anak didik, tetapi oleh orang tua serta guru-guru pengajar di sekolah. UAN benar-benar suatu syarat mutlak untuk bisa meneruskan langkah kita, banyak cara dilakukan oleh anak didik demi meraih tiket itu. Misalnya dengan mengikuti program bimbingan belajar yang saat ini marak diselenggarakan. Kelulusan menjadi hantu yang harus dihadapi, takut akan hantu akan lebih parah lagi bila tidak dihadapi pun demikian berhadapan dengan hantu itu kita harus siap. Dia tidak pandang bulu atau memilih, jika gagal akan bertemu lagi sampai tiket itu bisa kita rebut darinya.

Read More......